Langsung ke konten utama

GERAKAN MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP DAN PROGRAM AIR BERSIH DENGAN PENDEKATAN PARTISIPATIF


GERAKAN MENJAGA LINGKUNGAN HIDUP DAN PROGRAM AIR BERSIH DENGAN PENDEKATAN  PARTISIPATIF

Gambar 01: Ilustrasi Kebutuhan Air Bersih
Sumber: https://rebanas.com/gambar/images/pengertian-air-bersih-berasal-pengunungan-gambar, diakses Februari 2018

PENDAHULUAN
Lingkungan yang baik, sehat dan terjaga menjadi salah satu bagian yang sangat penting di dalam kehidupan manusia. Bagaimana tidak, manusia tidak bisa hidup dengan sehat jika lingkungan disekitarnya tidak sehat juga. Faktanya masih banyak kita temukan lingkungan yang kumuh di seluruh dunia. Mirisnya, lingkungan kumuh tersebut dijadikan tempat bermukim bagi sebagian besar manusia di dunia. Sebagai contoh di Brazil dan India, permukiman kumuh banyak dijumpai. Namun tidak hanya di kedua negara tersebut, ternyata di negara kita, banyak kita temukan pula permukiman-permukiman kumuh, di kota-kota di seluruh Indonesia. Dari data Statistik BPS (2013) dijelaskan, bahwa angka permukiman kumuh terbesar berada di pulau Jawa dan Sumatera.

Gambar 02: Peta Sebaran Luas Permukiman Kumuh di Indonesia (Ha)
Sumber: BPS tahun 2013, Direktorat Perkotaan, Perumahan, dan Permukiman (Jakarta, 2016)

Diperkirakan salah satu penyebab munculnya area kumuh di Indonesia adalah urbanisasi aktif. Berpindahnya warga dari desa menuju ke kota besar yang semakin banyak, menjadikan kota  tidak mampu lagi untuk mencukupi dan menampung warga yang datang secara terus menerus. Selain itu lahan untuk hunian di daerah perkotaaan juga semakin  terbatas.
Kenyataan ini membuktikan bahwa ketersediaan fasilitas dan infrastruktur warga perkotaan masih belum merata. Selain itu masih banyak warga yang belum mendapatkan fasilitas dan infrastruktur lingkungan yang baik dan sehat. Permukiman pinggir sungai misalnya, mengalami persoalan pelik terkait dengan penyediaan air bersih? Air yang mereka konsumsi sebagian besar berasal dari sungai, sedangkan sungai juga secara aktif dan masif dimanfaatkan juga untuk melakukan segala aktivitas yang berkaitan dengan air seperti mencuci, mandi, buang air kecil dan besar, dsb.

LINGKUNGAN HIDUP DAN AIR SEBAGAI PUSAT KEBUTUHAN HIDUP MANUSIA DI INDONESIA
Menurut Undang-undang No. 32 Tahun 2009 Pasal 1 ayat (1) lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Komponen atau unsur lingkungan hidup terdiri atas beberapa unsur, yaitu: 
  1. Unsur lingkungan biotik/hayati, terdiri dari semua jenis makhluk hidup.
  2. Unsur lingkungan abiotik. Terdiri dari benda-benda tidak hidup, seperti air, udara, tanah, iklim, dan sebagainya.
  3. Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang ada di sekitar manusia[1]
Air sebagai unsur abiotik menjadi unsur penting dalam menjaga kelangsungan hidup manusia. Air merupakan sistem transportasi di dalam tubuh manusia yang berfungsi untuk  mengirimkan zat-zat gizi ke semua sel. Air juga penting dalam proses pencernaan, membantu untuk fungsi penyerapan zat makanan, proses asimilasi, dan sistem ekskresi. Tubuh manusia dapat bertahan sekitar 5 minggu tanpa makanan, tetapi hanya butuh 5 hari untuk bertahan tanpa air. Oleh karena itu, kebutuhan air bagi tubuh menjadi hal utama dalam keberlangsungan hidup manusia. Komposisi air dalam tubuh bayi mencapai (80%), untuk orang dewasa (70%), dan lanjut usia (50%). Organ-organ dalam tubuh pun hampir sebagian besar terdiri dari unsur air, yaitu paru-paru (90%), darah (82%), kulit (80%), otot (75%), otak (70%), dan tulang (20%). Dapat disimpulkan bahwa peran unsur air sangat besar dalam kehidupan manusia, yaitu sebagai elemen untuk bertahan hidup dan sumber penting yang dibutuhkan oleh tubuh[2]. Air juga merupakan media di mana perubahan iklim dapat mempengaruhi ekosistem bumi. Air juga sangat terkait dengan berbagai mata pencaharian dan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. (Heston, 2015:41)
Menurut Heston (2015:41) di banyak negara berkembang, kondisi warga cukup menderita dikarenakan kurangnya ketersediaan air bersih. Air bersih dalam rumahtangga maupun pada tataran lain, memunculkan kebutuhan dan kepentingan atas kegiatan pengelolaan air yang benar. Lebih lanjut, dalam penanganan infrastruktur air minum dan sanitasi masih terdapat beberapa permasalahan. Untuk sektor air minum, saat ini cakupan pelayanan secara nasional baru mencapai 47,71% yang terdiri dari 49,82% di perkotaan dan 45,72% di pedesaan (Heston, 2015:44). Fabby Tumiwa (2006) dalam Hestson (2015:44-45) menyebutkan berdasarkan laporan WHO tahun 2003, dari 217 juta penduduk Indonesia, hanya 78% penduduk memiliki akses atas air dari sumber yang aman (improved water) dan baru sekitar 17% rumah tangga yang memiliki akses sambungan ke PDAM.
Dari data-data tersebut dapat dilihat bahwa kebutuhan air bersih sangat masih sangat kurang memadai di Indonesia, padahal semua warga masyarakat sangat membutuhkan akses yang baik terhadap air bersih. Pemerintah dalam hal ini bekerjasama dengan World Bank menawarkan sebuah solusi untuk akses air bersih dan sanitasi yaitu program PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat).

PEMBAHASAN
Secara umum, lingkungan hidup merupakan suatu sumber daya alam. Sumber daya alam terbagi menjadi dua kategor, yiatu sumber daya yang bisa diperbaharui dan yang tidak bisa diperbaharui. Di sekitar kita, terdapat banyak sumber daya dari lingkungan hidup, salah satunya adalah air.
Lebih lanjut bisa kita tengok kehidupan masyarakat di Indonesia yang bergantung pada keberadaan sumber air, dimana ada sungai, di sana pasti ada permukiman masyarakat. Sayangnya permukiman tersebut sebagian besar dalam kondisi yang kurang layak dan bahkan masuk dalam kategori permukiman kumuh. Seperti halnya pepatah mengatakan: ada gula ada semut, dimana ada sumber kehidupan, maka disanalah manusia banyak berkumpul. Begitu pula dengan kehadiran air yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Air sangat mendukung untuk berbagai macam hal dalam kehidupan, misalnya mencuci, mandi, pertanian, perkebunan, sistem transportasi, hingga hal yang sangat mutlak dibutuhkan manusia yaitu untuk minum.
Mengingat sedemikian pentingnya fungsi air bagi kehidupan inilah yang mendorong manusia mendiami daerah-daerah tepian air, agar bisa mendapatkan pasokan air yang cukup. Saat ini di Indonesia, masih banyak warga masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan belum mendapatkan pelayanan air minum yang layak. Salah satu program Pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah pelayanan air minum dan sanitasi di Indonesia (terutama daerah pedesaan) adalah melalui gerakan PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Tujuan dari program ini adalah menambah akses pelayanan air minum yang aman dan sanitasi yang layak bagi penduduk secara berkelanjutan serta mempraktekkan perilaku hidup sehat dan bersih kepada masyarakat dengan basis masyarakat atau partisipatif.
Data dari PAMSIMAS menyatakan bahwa lebih dari 75 juta jiwa penduduk di Indonesia belum mendapatkan pelayanan air minum yang layak, meskipun pemerintah sudah lebih dari 20 tahun secara terus menerus berupaya menyediakan akses air minum dan sanitasi yang layak kepada masyarakat. Terlebih lagi, sekitar 100 juta jiwa penduduk masih belum dapat mengakses sarana sanitasi sehat dan lebih dari 60 juta jiwa terpaksa buang air besar (BAB) sembarangan, di tempat yang terbuka atau di sungai. Oleh karena itu pada tahun 2006 Pemerintah Indonesia mengembangkan program PAMSIMAS.
Dalam memberikan fasilitas pelayanan air minum, pemerintah sering menggunakan pendekatan top-down. Pendekatan ini mengakibatkan adanya ketidaksesuaian antara keinginan atau kebutuhan warga dan layanan yang mereka terima. PAMSIMAS dirancang untuk memastikan agar semakin banyak rumah tangga di Indonesia yang mendapatkan manfaat dengan adanya akses yang lebih baik ke pelayanan air minum berkualitas dan sarana sanitasi layak. PAMSIMAS juga memberikan pelatihan untuk pejabat-pejabat desa, provinsi, dan kota/kabupaten sebagai upaya pengarustamaan pendekatan program. Secara keseluruhan, PAMSIMAS telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 450.000 orang.
Pada tahun 2002, UNICEF melaporkan bahwa secara global, diare dan pneumonia menyebabkan 29% kematian pada anak balita, dengan lebih dari 2 juta anak meninggal setiap tahunnya. Lebih dari 50.000 jiwa penduduk Indonesia, kebanyakan anak-anak, mengalami kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Diare menjadi salah satu dari penyakit tersebut, selain itu kondisi sanitasi yang buruk juga berpotensi mengakibatkan wabah kolera, tifus, hepatitis, dan penyakit berbahaya lainnya.

Gambar 03: Siklus Program PAMSIMAS
Sumber: PAMSIMAS, 2014:16-17

            PAMSIMAS telah membantu hampir 8 juta jiwa penduduk Indonesia untuk memiliki akses ke sarana air minum aman dan lebih dari 7,4 juta jiwa mendapatkan layanan sanitasi layak di sekitar 10.000 desa sampai pada bulan Mei 2015. Pada lokasi PAMSIMAS, lebih dari 50% kelompok masyarakat telah berhenti BAB sembarangan, sekitar 67% menerapkan cuci tangan pakai sabun, dan lebih dari 84% sekolah telah memiliki sarana sanitasi layak dan menerapkan program perilaku hidup bersih dan sehat.
            Program PAMSIMAS merupakan program dengan pendekatan partisipatif kepada masyarakat, dengan kata lain program tidak menggunakan sistem top-down seperti sebelum-sebelumnya melainkan menggunakan sistem bottom-up. Dengan partisipasi dari masyarakat, diharapkan program ini bisa mengubah gaya hidup masyarakat untuk hidup lebih sehat. Dengan pendekatan partisipatif secara otomatis masyarakat mandiri dan berkepentingan terhadap kelangsungan hidupnya. Jadi program ini tidak hanya memberikan penyuluhan bagaimana seharusnya hidup bersih dan sehat, tetapi juga menanamkan kebiasaan baru pada masyarakat sehingga untuk keberlanjutannya, masyarakat secara mandiri dan terus-menerus akan menerapkan pola hidup bersih dan sehat, bahkan mewariskan dan menanamkan kebiasaan baik tersebut kepada anak dan cucu mereka.

PENUTUP
Salah satu unsur penting lingkungan hidup, dalam hal ini yaitu air, memiliki peran sangat penting dalam kehidupan pribadi maupun komunitas. Gereja sebagai sebuah komunitas mandiri pasti juga bergantung pada ketersediaan air. Pasti akan kacau jika di dalam gereja tidak tersedia air bersih. Keberlangsungan aktifitas-aktifitas di gereja pun sangat membutuhkan air bersih.. Pelajaran penting yang dapat diambil dari pembahasan dan cara kerja PAMSIMAS, yaitu pendekatan kepada warga secara partisipatif. Pendekatan dengan cara ini memang sangat menguntungkan masyarakat, atau dalam hal ini dikaitkan dengan warga gereja. Semua kegiatan yang akan dilakukan gereja, atau semua rencana pembangunan sebuah gereja, akan sangat efektif jika menggunakan cara ini. Pendekatan partisipatif membutuhkan waktu yang agak lama, karena mengajak warga untuk terlibat dalam seluruh kegiatan. Pendekatan ini tidak disarankan jika dibutuhkan untuk membuat keputusan yang bersifat segera dan mendesak. Namun pendekatan ini bisa sangat efektif bila diaplikasikan untuk kegiatan yang memiliki jangka waktu lama dan berkelanjutan. Seperti kegiatan pembangunan, kerja bakti, kepanitiaan, atau bahkan untuk kegiatan komisi/wilayah. Karena dengan pendekatan ini, kita dapat belajar untuk mendengarkan ide dan gagasan dari warga gereja, serta bersama-sama melakukan diskusi demi terwujudnya kesepakatan bersama yang paling menguntungkan bagi pertumbuhan komunitas gereja.

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Perkotaan, Perumahan, dan Permukiman. (2016). Kebijakan dan strategi penanganan permukiman kumuh perkotaan 2015-2019. Jakarta: Bappenas.
Heston, Y. P. (2015). Perubahan iklim di perkotaan. Yogyakarta: Diandracreative.
PAMSIMAS. (2014). Menjawab tantangan air minum dan sanitasi di wilayah pedesaan indonesia. Jakarta: Harapan Prima Printing.
Undang-undang Republik Indonesia No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERCAYA TANPA MELIHAT

Alkisah seorang rasul bernama Tomas, dia tidak percaya bahwa Rabi-Nya, Yesus Kristus, telah bangkit dari antara orang mati. Kenapa sih kok Tomas bisa tidak percaya? Sebenarnya bukan tidak percaya, lebih tepatnya dia minta pembuktian supaya dia menjadi percaya. Kenapa dia seperti itu? Tomas, sebelum mengikut Kristus, dia adalah seorang nelayan. Tapi, berbeda dengan Petrus, Yohanes dan Andreas yang memiliki kapal sendiri, Tomas hanyalah seorang “buruh nelayan” yang menggunakan kapal orang lain untuk mencari ikan. Statusnya sebagai buruh ini kemungkinan besar mempengaruhi sikapnya yaitu tidak berani mengambil resiko. Sikapnya ini ternyata secara otomatis juga muncul ketika Kristus bangkit dan pada saat itu Dia belum menampakkan diri pada Tomas, sehingga dia tidak percaya dan muncullah kata-kata “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya...

KRISTEN DI MULUT AJA

                Suatu hari, ada macan yg marah karena kelaparan. Yang membuat dia marah adalah hewan di hutan habis, karena dieksploitasi dan dimakan manusia..                 Karena saking laparnya, dia berniat mendatangi kampung terdekat untuk memakan warga. Tapi di perbatasan hutan, ia dihadang malaikat,   Malaikat                : "Mas macan mau ke mana?" Macan                    : "Aku mau ke kampung terdekat, mau memakan warganya." Malaikat                : "Lho bukankah di hutan ada makanan?" Macan                    : "Habis, karena keserakahan manu...

PERSEMBAHAN YANG HIDUP

Tentu kita tidak asiing dengan ayat yang tertera pada Roma 12:1-3 bukan? (1) Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (2) Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (3) Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Tapi pernahkah kita merenungkan, apa maksud Tuhan, atau mengapa Tuhan menghendaki kita untuk mempersembahkan tubuh kita? Tuhan menginginkan...