Ada 2 orang pemuda yang bersahabat dekat. Sebut saja namanya
Ruben dan Niko.
Suatu
hari Niko bilang sama Ruben kalau dia naksir sama putri raja kerajaan seberang,
yang cantik dan baik hati.
Namun
dia tidak punya cukup uang untuk melamar sang putri. Oleh karena itu, Niko
minta bantuan si Ruben untuk meminjaminya sejumlah uang untuk melamar sang
putri.
Saat
itu, Ruben belum punya cukup uang namun dia punya suatu jaminan yaitu
barang-barang dagangannya yang masih di tengah lautan alias di kapal dan sedang
dalam perjalanan menuju kotanya.
Namun karena Niko harus cepat-cepat melamar sang putri, maka
Ruben memilih membantu sahabatnya itu dengan meminjami sejumlah uang, yang dia
pinjam dari rentenir.
Padahal
rentenir itu adalah musushnya dalam bisnis. Rentenir itu memberi pinjaman
dengan sebuah perjanjian resmi yang isinya,
“Jika
Ruben tidak bisa membayar tepat waktu maka Rentenir boleh mengambil daging
Ruben sebanyak 1 kilo.”
Dan
Ruben pun menyetujuinya, ditandatangani di atas materai. Karena dia sangat
ingin menolong sahabatnya. Akhirnya Niko bergegas melamar sang putri dan dia
pun berjanji akan segera mengembalikan uang pinjaman itu.
Lalu menikahlah Niko dengan si putri raja itu. Sedangkan Ruben,
di kampung halaman mereka, dia sedang pusing karena barang dagangannya yang di
kapal tidak bisa datang karena kapalnya mengalami kecelakaan di tengah laut dan
tenggelam.
Semua barang dagangannya tenggelam dan dia rugi sangat besar.
Sampai pada jatuh tempo pembayaran hutang, Ruben belum bisa membayar, dan kasus
itu pun dibawa ke pengadilan setempat.
Pengadilan berlangsung sangat lama dan panjang, bahkan sampai diberitakan
ke media massa. Lewat media massa tersebut, kabar Ruben tersampaikan kepada
Niko. Niko ingin sekali membantu sahabatnya, lalu dia bilang dengan istrinya,
“Bolehkah
aku meminjam sejumlah uang untuk melunasi hutang temanku?”
Sambil
dia bercerita tentang bagaimana dia bisa melamar istrinya dulu dengan uang
pinjaman itu.
Akhirnya istrinya pun memberikan uang pada Niko, bahkan 3 kali
lipat banyaknya. Lalu bergegaslah Niko menuju pengadilan untuk menolong Ruben.
Namun ternyata, istrinya membuntuti Niko dari belakang sambil mengawasinya.
Sampai di pengadilan, rentenir tidak mau mencabut perjanjian
tersebut walaupun dibayar 3 kali lipat sekalipun.
“Perjanjian
tetap perjanjian! Aku akan mengambil dagingmu 1 kilo!!”
begitulah
kata rentenir itu.
Niko
dan Ruben langsung bingung dan panik, namun ternyata istri Niko yang sudah
mengikuti dari belakang, menyamar menjadi sebuah pengacara yang membela Ruben.
Namun sesuatu yang diluar dugaan mereka terjadi...
“Saya
menyetujui perjanjian ini!”
Begitulah
kata istri Niko. mendengar pernyataan tersebut, Ruben dan Niko bingung dan marah
“Pembelaan
macam apa ini? Kenapa malah memojokkan kami??”
Namun
setelah itu, istri Niko meluncurkan pembelaan yang luar biasa,
“Saya
setuju dengan perjanjian ini, silakan anda mengambil daging Ruben. Tetapi TIDAK BOLEH ada
darah yang keluar, karena di perjanjian ini tidak tertulis demikian, bagaimana
pak Hakim?”
Dan pak
hakim pun menyetujui kata-kata istrinya Niko,
“Baik,
sudah diputuskan, silakan anda mengambil dagingn Ruben sebanyak 1 kilo,
tapi TIDAK
BOLEH ada satu tetes pun darah yang keluar!”
Akhirnya
Ruben dan Niko selamat dari pengadilan tersebut, dan Ruben tinggal dengan Niko
di istana.
Begitu indah pertolongan istri Niko yang tepat waktu dan luar
biasa, bagitu juga Tuhan kita, tak ada rencana kecelakaan yang
direncanakan-Nya. Pertolongan-Nya selalu tepat dan indah pada waktu-Nya. Jangan
berhenti berharap pada pertolongan Tuhan. Do the best, 'n GOD will do the rest..
Gusti
mberkahi kita sedaya. Amin.
(sumber
dari cerita ini adalah kotbah dari Pdt. Sundoyo, S.Si., MBA. namun saya lupa
kapan kotbahnya)

Komentar
Posting Komentar