Ini hanya sepenggal Kasih Tuhan yang telah saya rasakan dalam hidup saya.
Inilah kisah perjalanan hidup saya bersama dengan Tuhan, yang merubah seluruh
hidup saya termasuk cara pandang saya terhadap Dia.
Januari
2012
Awal Januari 2012 saya berniat mengambil Tugas Akhir yg sudah saya rencanakan
sejak akhir November 2011. Setelah saya mengikuti tahapan pertama yaitu
pembuatan proposal judul, saya mengikuti ujian agar judul saya diterima dan saya
bisa mengambil Tugas Akhir, ujian berlangsung tanggal 7 Januari 2012. Saya
sangat berharap bisa lulus, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, saya tidak
lulus pada ujian tersebut. Tapi puji Tuhan saya tidak harus mengulang dengan
judul baru, dosen hanya ingin saya melanjutkan dan melengkapi pekerjaan yang
sudah saya buat, dan mengikuti ujian sisipan pada Maret 2012. Lalu saya
langsung memperbaiki pekerjaan saya.
Februari
2012
Saya masih terus sibuk untuk memperbaiki pekerjaan proposal Tugas Akhir saya
agar Maret depan saya benar-benar siap menghadapi ujian judul.
Maret
2012
Tiba saatnya ujian, setelah saya lengkapi syarat-syarat untuk ikut ujian, saya
pun maju ujian sesuai jadwal. Dan puji Tuhan, saya lulus ujian saat itu. Senang
sekali rasanya, lalu saya mulai mengerjakan tahap ke dua Tugas Akhir, yaitu
penulisan skripsi. Penulisan skripsi hanya 2 bulan, pertengahan Maret sampai
Pertengahan Mei.
April
2012
Di
bulan April saya terus mengejar skripsi, meskipun kadang merasa malas dan
perkembangannya lambat. Saya terus mengerjakan dan berkonsultasi dengan dosen
pembimbing hingga Mei 2012.
Mei
2012
Tanggal 18 adalah tanggal pengumpulan materi skripsi yang akan diuji. Namun
karena saya malas, jadinya saya hanya mengumpulkan sejadinya. Lalu tanggal 22
sudah mulai ujian dengan jadwal masing-masing. Tanggal 23 adalah jadwal saya
untuk ujian. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, sehingga pada tanggal 21
saya masuk ke UGD RS Bethesda karena kesakitan sekali, dan saya dianjurkan
untuk segera opname pada waktu itu. Namun karena saya ingin ikut ujian, saya
menolak untuk opname, pikir saya, saya sudah usaha keras selama 2 bulan
mengerjakan skripsi, eman-eman kalau saya tidak ikut ujian padahal tinggal
selangkah lagi, akhirnya saya pulang. Di rumah, saya sampai ngenyang sama
Tuhan, “Tuhan, mbok sakitnya tu besok aja kalau ujian sudah selesai.” Tapi
ternyata Tuhan mengijinkan saya sakit saat itu juga. Badan saya demam, lemas,
kepala saya rasanya sakit sekali.
Besoknya, tanggal 22, pada waktu briefing menjelang ujian, saya bilang sama
dosen pembimbing saya untuk ijin opname, karena saya sudah tidak tahan lagi.
Saya bilang kalau saya terkena gejala tipes, karena hasil laborat menyatakan
demikian. Puji Tuhan, dosen saya mengijinkan dan saya langsung dibawa ke RS untuk
opname. Karena hasil lab mengatakan bahwa saya kena gejala tipes, saya
dimasukkan ke bangsal penyakit dalam, pada saat itu dokter yg menangani saya
adalah Dr. Marwani. Setelah 3 hari saya opname dan dicek lab lagi, ternyata
tipesnya sudah negatif, tapi sakit kepalanya masih terasa sakit sekali. Oleh
karena itu Dr. Marwani bilang kalau jangan-jangan sebenarnya yg tidak beres itu
kepalanya. Maka Dr. Marwani menyarankan saya untuk menjalani CT Scan, dan
hasilnya dikonsultasikan ke dokter spesialis saraf, yg menangani saya waktu itu
adalah Dr. Pinzon, beliau bilang bahwa memang ada yg tidak beres di kepala
saya, dan penyebab semua itu yg harus dicari. Lalu beliau menyarankan untuk
menjalani MRI/MRA. Saya jalanilah itu, namun setelah keluar dari ruang MRI badan
saya kaku semua, dingin, dan susah untuk bergerak. Sampainya di bangsal, saya
menjerit kesakitan karena sakit kepala yg luar biasa. Karena kaki dan tangan
saya semuanya dingin, otomatis ibu dan bapak saya panik. Lalu mereka memanggil
perawat, dan untuk mengurangi kesedihan yg terjadi, saya mengajak bapak, ibu
dan semua orang yg ada di bangsal untuk berdoa dan ngidung. Akhirnya Tuhan
menolong dengan bantuan tabung oksigen. Jadi untuk beberapa waktu saya
menggunakan selang oksigen untuk membantu pernapasan sekaligus mengurangi nyeri
di kepala.
Setelah 3 hari hasil MRI datang bersama dengan dokternya, tapi beliau hanya
berpesan pada ibu saya, ternyata beliau ingin konsultasi dulu dengan dokter
bedah saraf agar lebih akurat. Setelah rembugan, besoknya beliau datang menemui
saya dan bilang kalau ada kelainan pembuluh darah di otak saya. Pembuluh
tersebut tidak normal dan mudah pecah, dan pada saat itu ternyata sudah pecah
dalam skala kecil, itulah sebabnya saya merasakan sakit kepala yg luar biasa.
Nama penyakitnya aneurismavena, atau biasa disingkat AVM. Setelah itu saya juga
diberi tahu bahwa ada 3 jalan penyembuhan.
Yang pertama adalah menggunakan gamma knife, atau pisau sinar gamma yg tidak
tersedia di Jogja, hanya ada di RS Siloam Tangerang, yg kedua dengan sinar
radioterapi yg tersedia di RS Sardjito Jogja, yg terakhir saya lupa nama
alatnya tapi bentuknya seperti pulpen mekanik jadi nanti tinggal ditekan
pangkalnya lalu diambil penyakitnya, tapi yg ini juga tidak ada di Jogja. Lalu
karena asuransi dari tempat ayah saya bekerja memang merujuk ke Jogja ya saya
ambil yg radioterapi.
Juni
2012
Saya dipindahkan ke bangsal saraf, supaya penanganannya lebih akurat dan
efektif. Sebenarnya bulan Juni ada regenerasi pengurus pemuda. Namun karena
saya masih opname maka saya tidak bisa ikut. Sebenarnya saya marah besar sama
Tuhan, karena saya merasa Tuhan sudah memilih saya untuk jadi ketua di
kepengurusan, namun kenapa hanya regenerasinya saya saya tidak boleh ikut? Saya
sedih sekali pada saat itu, saya berseru2 sambil menyalah2kan Tuhan. Saya
bertanya dengan nada nyaris membentak, “Karep-Mu ki piye toh Tuhan? Engkau
sendiri yang mempercayakan kepemimpinan pemuda kepadaku, tapi apa, ikut
regenerasinya saja tidak boleh?” Ibu saya terus menasihati saya supaya berhenti
menyalahkan Tuhan. Akhirnya saya mendengarkan nasihat ibu dan saya sadar kalau
memang tidak sepantasnya saya marah-marah. Namun karena masih ada rasa kecewa,
saya minta tolong ibu untuk telpon pak Sundoyo, pendeta saya. Dan pada obrolan
malam itu beliau berkata, “Kita dan Bapa itu seperti ayah dan anak, jadi wajar
kalau anak protes sama bapaknya, tapi sebenarnya anak itu tidak tahu apa yg
sudah disiapkan bapaknya untuk waktu yg panjang. Dan saat kita tahu apa
maksud-Nya dan berkat yg didapatkan, barulah kita bilang, kok tidak dari kemarin-kemarin
saja sih Tuhan? Dan kita dibuat takjub dengan kuasa-Nya.” Pada saat itu juga
saya belajar untuk mengerti apa maksud Tuhan sebelum saya protes sama Tuhan,
dan ucap syukur dengan kerendahan hati adalah kunci utamanya, tanpa itu,
bukannya bersyukur dan mencoba mengerti maksud Tuhan, tapi kita pasti mengeluh
dan protes pada Tuhan dengan keras kepala.
Pertengahan Juni saya diperbolehkan untuk pulang, karena awal Juli saya sudah
harus sinar radioterapi di RS Sardjito. Tadinya awal Agustus saya baru bisa
sinar, karena saya menggunakan asuransi dan seharusnya jika menggunakan
asuransi jatahnya harus pagi/siang. Tapi ternyata pihak asuransi tidak
keberatan kalau jadwal sinar diganti malam hari. Sehingga saya bisa lebih cepat
menjalani sinar radioterapi.
Juli
2012
Jadwal awal adalah 25 kali sinar setiap senin-jumat sore. Tapi pertengahan
sinar saya kontrol ke profesor yg menangani saya, namanya Prof. Maesadjie dan
beliau bilang tidak perlu 25 kali, cukup 13 kali saja. Mendengar itu saya langsung
senang sekali, karena besar harapan saya untuk cepat sembuh dan menyusul
teman-teman untuk menyelesaikan Tugas Akhir. Tapi lagi-lagi Tuhan berkehendak
lain, Tuhan mengijinkan saya untuk merasakan sakit kepala lagi, bahkan lebih
sakit saat setelah saya pulang dari sinar terakhir, dan akhirnya saya dibawa ke
UGD Bethesda dan menjalani CT Scan lagi di sana.
Ternyata pembuluh darah saya semakin membesar, karena memang sinar radioterapi
tidak menjamin sembuh, kemungkinannya berhasilnya 50 : 50. Setelah Dr. Pinzon
ditelepon, beliau bilang kalau sebaiknya opname lagi. Akhirnya pada akhir bulan
Juli saya kembali opname dengan perawatan intensif untuk menjaga supaya
pembuluh darah di kepala tidak pecah lagi.
Agustus
2012
Masuk ke bulan Agustus, akhirnya diputuskan bahwa saya akan pergi ke Tangerang
pada tanggal 21. Namun tanggal 11 Dr. Sugiarto datang dan memanggil ibu saya
untuk diskusi sebentar. Di luar dugaan ternyata beliau bilang kalau saya
terkena tumor kepala dan beliau menawarkan obat infus pada saya. Hanya saja,
ibu tidak memberitahu saya kalau beliau bilang saya terkena tumor.
Ibu hanya bilang bahwa saya
akan diberi obat infus oleh beliau. Tapi sebelum disetujui, ibu juga bertanya
pada Dr. Pinzon bagaimana baiknya. Dr. Pinzon bilang kalau sebaiknya dibawa ke
Tangerang dulu, kalau langsung diberi infus takutnya nanti kalau bukan tumor,
dan bisa salah obat. Dan saya juga memilih untuk ke Tangerang daripada obat
infus yg sering disebut kemoterapi. Padahal kalau berangkat ke Tangerang saya
juga berpikir, dana dari siapa, karena biayanya sangat tinggi. Apalagi alat
gamma knife saja harganya sudah 120 juta, belum biaya operasi, biaya bangsal,
obat, makan dll. Sebenarnya saya juga harap-harap cemas, namun yg namanya orang
tua, pasti ingin yg terbaik untuk anaknya. Akhirnya orang tua saya mendapatkan
sekitar 70 juta, ibu sempat tanya sama pak Sundoyo, gimana pak saya cuma punya
segini. Tapi beliau menjawab, “Sudah bu, berangkat saja dengan iman.” 1 masalah
sudah selesai, masalah lainnya, saya tidak punya saudara di sana? Orang tua
saya harus menginap di mana?
Akhirnya tanggal 21 kami (saya, bapak, ibu, 1 orang sopir, 1 orang perawat)
berangkat ke Tangerang dengan menggunakan ambulance RS. Sampai di RS Siloam
saya langsung dilarikan ke UGD dan dicek lab, detak jantung, dll. Lalu datang
salah satu dokter dari tim bedah saraf yaitu Dr. Harsan, orangnya ramah dan
komunikatif sehingga kami bisa konsultasi dengan nyaman. Beliau bilang bahwa
akan dilakukan observasi dulu dengan CT Scan + kontras. Fungsi kontras hampir
sama dengan flashlight pada kamera, yaitu untuk membantu pencahayaan.
Begitu saya opname, saya kaget karena saat malam itu juga ada yang menjenguk
saya, saya tidak kenal, setelah ngobrol-ngobrol ternyata jemaat dari GKJ
Tangerang. Saya juga bingung, tahu darimana ini? Ternyata salah satu jemaat
yang menjenguk adalah adik dari pak Terry, majelis pendamping Komisi Pemuda GKJ
Brayat Kinasih. Saya kaget, ternyata dunia begitu sempit, saya bisa bertemu
saudara seiman di sini, kalau bukan Roh Kudus yg berkarya, tidak mungkin para
jemaat ini mau menjenguk saya. Saya langsung berikir, ternyata Tuhan saya itu
sangat hebat! Tuhan kirimkan orang-orang untuk membantu kami, bahkan mereka
menawarkan rumah untuk menginap. Setelah kami ngobrol dan bertukar informasi,
jemaat GKJ Tangerang pamit dan malam itu juga saya benar2 bersyukur pada Tuhan
Yesus.
Paginya tim bedah saraf dengan anggota lengkap mengunjungi saya, ketuanya
adalah Prof. Eka yg memang sudah terkenal ahli bedah saraf. Beliau bilang akan dilakukan
beberapa tindakan untuk cek ulang apa penyakitnya. Sebenarnya saya sudah
kirimkan foto hasil MRI dari Jogja berupa CD, namun karena tidak bisa dibuka
jadinya dilakukan tindakan untuk mengetahui apa yang ada di dalam kepala saya.
Tanggal
23 saya CT Scan + kontras, sorenya hasil sudah ada namun penyakit saya tidak
terlihat. Oleh karena itu akan dilakukan tindakan ke dua, yaitu DSA atau
Digital Substraction Angiography. Dengan alat menyerupai monitor kecil dan akan
dimasukkan bersama kateter lewat arteri selangkangan kanan. Pada saat itu saya
membayangkan, bagaimana bisa kateter segitu masuk lewat selangkangan? Bagaimana
itu rasanya? Pasti sakit sekali, apalagi dokter bilang nanti dia akan naik
sendiri ikut pembuluh darah, wah semakin panik saya. Tapi saat itu bapak
berusaha mencari informasi untuk menenangkan saya. Ternyata kateternya tidak
sebesar kateter pipis, hanya sebesar benang jahit, di ujung kateter tadi ada
monitor kecil yg kerjanya mirip dengan kamera, dari situ akan dilakukan foto
untuk keadaan di alam otak saya.
2 hari
setelah dijelaskan, tibalah waktunya untuk tindakan yaitu DSA, saya yg tadinya
takut sekali langsung tenang karena malamnya sudah minta kekuatan sama Tuhan.
Sebelum tindakan saya harus puasa kurang lebih 6 jam. Kira-kira jam 1 siang
saya dibawa ke ruangan yang namanya Cath Lab, disitu adalah ruangan untuk
tindakan yg berhubungan dengan saraf yg bukan operasi. Setelah cek ulang dan
serah terima perawat, saya lalu dibawa ke dalam dan mulailah
persiapan-persiapan untuk DSA. Saya diberi bius lokal, hanya perut ke bawah
jadi saya tetap sadar waktu itu. Puji Tuhan, perawat yang di sana kebanyakan
dari Jogja, jadi ya teman sendirilah. Agak ayem hatinya. Selama tindakan
berlangsung, saya pikir sudah tidak terasa apa-apa karena sudah dibius, tapi
ternyata saya masih menahan sakit karena ditekan-tekan dan merasakan panas
kontras yg luar biasa, meskipun hanya sebentar-sebentar tapi sering sekali
diberikan kontras, karena tiap kali foto menggunakan kontras. Tindakan berjalan
30 menit, dan yang membuat lama adalah pasca tindakan. Karena harus
menghentikan pendarahan, kenapa pendarahan? Karena pembuluh darah yg digunakan
adalah arteri, yang darahnya akan mancur jika tidak cepat-cepat dihentikan. 1
jam lebih 15 menit untuk penghentian pendarahan, setelah itu saya dibawa
kembali ke bangsal tapi kaki kanan saya tidak boleh ditekuk selama kurang lebih
6 jam. Setelah itu saya tidur dan menunggu kunjungan tim bedah saraf besoknya.
Bapak
dan ibu saya sudah menyinggung-nyinggung soal pulang dan pulang, karena
ternyata Dr. Harsan sudah menjelaskan hasilnya kepada bapak dan ibu kalau tidak
nampak penyakit apa-apa di kepala saya. Pada hari Minggu, datang lagi seorang
yang tidak saya kenal, orangnya sudah sepuh, orang cina, tapi ramah dan kata-katanya
benar-benar menguatkan saya. Saya berpikir, ini siapa lagi Tuhan? Apa ini orang
suruhan-Mu lagi? Dan ternyata benar, namanya Pak James, ternyata anak dari pak
James adalah rekan dari pak Sundoyo waktu jadi relawan di merapi, namanya pak
Cahya, tapi pada waktu itu beliau tidak bisa hadir bersama pak James karena
baru di luar negeri. Pak James adalah pribadi yg menurut saya luar biasa,
beliau memang kaya raya, tapi beliau memiliki persepsi bahwa kekayaannya itu
bukan miliknya, tapi milik Tuhan, sehingga beliau mau dipakai Tuhan menjadi
saluran-saluran berkat bagi orang-orang yg membutuhkan. Pak James ini adalah
orang yg paling sangat membantu saya dalam hal dana pada saat itu. Beliau tidak
tanggung-tanggung memberikan dana yg besar untuk pengobatan saya. Dalam hati
saya bilang begini, Tuhan ternyata Engkau benar-benar luar biasa, banyak dosa
saya lakukan, berkali-kali saya melukai hati-Mu Tuhan, tapi Engkau balas dengan
keajaiban-keajaiban seperti ini. Saya merasa diopeni sama Tuhan seperti Tuhan
ngopeni biji mata-Nya sendiri. Saya sangat bersyukur Tuhan buat kasih setia-Mu.
Setelah selesai ngobrol pak James langsung pamit, saya janji paling tidak saya
mau main ke rumahnya kalau sudah sembuh.
Malamnya, datang lagi jemaat dari GKJ Tangerang, kali ini lengkap bersama
pendetanya, wah Tuhan, senang sekali saya. Saya yg dari Jogja cemas, bingung,
mau makan apa, tidak ada saudara, ternyata malah setiap hari ada saja orang
yang berkunjung. Kalau dilihat kembali, dari pertama adalah jemaat GKJ
Tangerang pepanthan Serpong, lalu besoknya om saya dari Cilegon datang dan ikut
menginap. Lalu datang juga tim doa dari RS Siloam turut mendoakan, setelah itu
datang Pak James dan keluarganya, malamnya datang lagi jemaat GKJ Tangerang
tapi untuk kali ini lengkap dengan Pak Pendeta, namanya Pendeta Matias. Dan
besoknya, saya akan mengetahui hasil dari DSA.
Akhirnya
tim bedah saraf datang untuk menjelaskan, ternyata dengan DSA pun tetap tidak
nampak, dugaannya pembuluh darah itu pecah dan darahnya menghalangi sehingga kamera
tidak bisa menangkap penyakitnya apa. Prof. Eka hanya bilang ada farises tapi
di luar batok kepala jadi tidak masalah dibiarkan saja. Beliau juga bilang
sebaiknya saya pulang dulu karena belum terlihat apa-apa, masih banyak
darahnya, kira-kira 2 bulan lagi kontrol untuk melihat lagi kepalanya. Karena
saat itu juga kalau mau gamma knife ya apa yg mau dipotong? Mau operasi juga
apa yg mau dioperasi, kan tidak terlihat. Puji Tuhan saya bisa pulang, saya
berharap saya benar-benar sembuh dan tidak merasakan sakit apa-apa lagi. Akhir
bulan saya pulang ke Jogja naik bus.
September
2012
Bulan
September saya sudah di Jogja, dan barulah saya tahu kalau ternyata saya
difonis tumor oleh Dr. Sugiarto, pantas saja kok Dr. Harsan dan Prof. Eka
menyinggung soal tumor, tapi syukur saya sudah bisa pulang, meskipun sebenarnya
saya masih merasakan sakit kepala, tapi sudah sangat berkurang daripada yg Mei
dan Juni, saya bersyukur sama Tuhan, bahkan saya pun sudah ingin melanjutkan
skripsi saya. Tapi ternyata belum diijinkan oleh Dr. Pinzon, orang tua dan
dosen pembimbing saya. Jadi saya hanya menjalani aktivitas ringan di rumah dan
gereja.
Oktober
2012
Hampir
sama dengan September, awal bulan saya habiskan dengan aktivitas seperti biasa,
namun akhir Oktober saya ke Siloam lagi untuk kontrol. Kali ini lengkap
sekeluarga, adik saya juga ikut. Kami menginap di rumah om saya di Cilegon, beliau
bersedia mengantarkan kami dan menemani kami di RS Siloam untuk kontrol.
Ternyata saya disuruh MRI+kontras, karena Dr. Harsan mau cek apa benar-benar
hilang atau masih ada. Setelah MRI kami jalan-jalan, karena hasil dari MRI
masih sore. Akhirnya kami kembali ke RS sekitar jam 3 sore. Dr. Harsan bilang
masih ada penyakitnya, langsung njeglek saya. Mbatin, kok tidak selesai-selesai
sih Tuhan, sampai kapan seperti ini terus? Apalagi beliau juga bilang bahwa
harus diambil, tapi beliau akan merundingkan dulu dengan anggota tim bedah
saraf lain terutama Prof. Eka. Lalu kami dipersilakan pulang dan besoknya akan
dikabari secepatnya untuk tindakan yg akan diambil. Akhirnya kami pulang dan
menunggu kabar dari dokter.
Besoknya, ada sms dari Dr. Harsan bahwa harus segera bertemu untuk
membahas operasi. Jadi kira-kira jam 10 pagi kami berangkat ke Tangerang.
Sampai di sana kami langsung ke ruangan Dr. Harsan, beliau begitu detail
menjelaskan penyakitnya dan langkah-langkah yg akan dilakukan saat operasi.
Nama penyakitnya adalah cavernoma atau disebut juga kelainan pembuluh darah
yang mana pembuluh darah tersebut mudah pecah, dan kasus yang saya derita
adalah rembes/bocor, jika dibiarkan saja akan menyebabkan hidrocepalus atau
bahkan kanker otak. Kalau AVM akan hilang/sembuh bila pecah, karena akan
membentuk pembuluh darah baru, dan normal, kalau tumor memang sudah tidak ada
darah lagi namun tumornya terlihat. Kalau cavernoma, dia akan terus menerus
membuat pembuluh darah yang sama yang tidak normal. Sehingga harus diambil, tapi
kali ini hanya operasi biasa jadi bukan gamma knife, sehingga dari biaya
sedikit lebih ringan. Begini langkah operasinya, pertama-tama kulit kepala
dibuka, bagian depan. Setelah terlihat tengkoraknya, maka dilakukan pelubangan
pada tengkorak, setelah itu barulah penyakitnya bisa diambil. Setelah diambil,
barulah ditutup kembali dan dibaut dengan baut kecil.
Tambah
njeglek saya, bagaimana rasanya?? Tengkorak dilubangi? Meskipun bius total,
tapi tetap terpikir bagaimana rasanya ada baut di kepala? Rencana akan
dilaksanakan secepatnya, tapi karena ibu masih ada tanggung jawab nilai akhir
semester + raport dan bapak juga hanya ijin untuk kontrol, maka kami memutuskan
untuk pulang dulu, tentu saja dengan ijin dari dokter.
November
2012
November
awal kami sampai lagi di Jogja, saya kembali melakukan aktivitas2 ringan demi
menjaga agar tidak pecah lagi. Hanya berdoa dan berdoa yang bisa kulakukan.
Namun siapa sangka, dengan berdoa dan terus berdoa saya mendapatkan kekuatan
untuk menghadapi semua yg harus dihadapi. Semakin hari semakin hilang rasa
takut yg saya alami. Begitulah penyertaan yg Tuhan berikan pada saya.
Desember
2012
Akhirnya
tiba waktunya untuk operasi, kami berangkat ke Kemayoran dulu, karena ada om
yang ada di sana. Sampai di Kemayoran kira-kira jam 5 sore dan langsung
ditelpon oleh Dr. Harsan. Beliau menyarankan agar saya langsung saja masuk dan
mendaftar. Sebenarnya saya didaftarkan beliau tanggal 11 dan 12, tinggal pilih
saja, namun saran beliau memang tanggal 11 karena tanggal 12 pasti banyak yg
sesar. Setelah itu bapak langsung telepon om saya, karena om sayalah yg akan
membantu saya dalam hal finansial. Akhirnya kami menunggu om pulang dan setelah
urusan finansial beres kami langsung menuju Tangerang. Dan mulailah dengan
pemeriksaan-pemeriksaan menjelang operasi. Besoknya saya dioperasi dan operasi
berjalan dengan baik. Operasi berlangsung selama 5 jam dan tim bedah saraf
mendokumentasikan dengan merekam operasi dan akan diberikan pada kami. Pasca
operasi, saya langsung dipindah ke ICU selama semalam. Namun justru di ICU
adalah perjuangan terberat, saya harus ngempongi selang pernapasan yg dipasang
sampai tenggorokan, hidung saya dipasang kateter untuk makan. Sesak sekali
rasanya, susah bernapas, tapi harus terus latihan bernapas. Juga infus di
tangan kiri dan kaki kiri.
Sampai
pagi saya memakai alat-alat tersebut, sampai akhirnya seorang dokter datang dan
menyuruh perawat untuk melepas semua selang-selang dari mulut saya. Saya masih
tidak tahu kalau sebenarnya ada 1 selang lagi di kepala, baru setelah pindah
bangsal saya tahu. Semakin hari semakin membaik keadaaan saya dan satu persatu
alat bantu dilepaskan dari tubuh saya, mulai dari oksigen, selang drain darah
kotor di kepala, dan sampai lepas jahitan. Dan akhirnya saya boleh pulang,
untuk kontrol pun dilimpahkan ke Dr. Indro Basuki. Jadi saya tidak perlu ke
Tangerang lagi. Karena kemarin beliau bilang sudah baik jadi tidak perlu ke
Tangerang. Cukup di Bethesda saja.
Januari
2013
Saya
kembali menjalani aktivitas saya seperti biasa, dan sekarang saya sudah bisa
melanjutkan skripsi saya yg tertunda. Berkat Tuhan, semua berjalan dengan
sempurna dan indah pada waktu-Nya.
Bapak/ibu/saudara terkasih, alangkah luar biasa kuasa Yesus dalam kehidupan
kita, alangkah besar kasih Allah pada kita. Saya bukti nyatanya, dengan susah
payah, Tuhan sendiri yang membentuk hati saya, dari orang yang selalu
mendukakan Tuhan menjadi seorang baru yang ingin menyenangkan hati Tuhan. Tuhan
kita adalah Tuhan yg selalu bertanggung jawab atas ciptaaan-Nya. Jangan
khawatir saat terjadi masalah dalam kehidupan, tetap percaya bahwa Tuhan akan
selalu berikan jalan. Ucap syukur dan setia dala perkara adalah kunci dari
berkat Tuhan yg luar biasa.
Semoga
pengalaman saya bisa menjadi saluran berkat untuk bapak/ibu/saudara sekalian.
Ingatlah selalu bahwa kasih Allah tidak akan pernah berkesudahan. Amin. Tuhan
memberkati.



Komentar
Posting Komentar